Percepat Three Ends Dengan Pelatihan Forum Puspa

By: dela dkp3a
Senin, 01 Okt 2018
56 pembaca
Samarinda --- Forum Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) 2016 menjadi langkah awal penggalangan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, dunia usaha, dan media untuk saling bahu membahu mempromosikan dan mengentaskan program Three Ends yang ditandai dengan pembacaan Deklarasi Yogyakarta berisi komitmen, sinergi, penguatan, penggalangan dan perluasan partisipasi publik untuk mengakhiri kekerasaan perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan manusia dan pemberdayaan ekonomi perempuan. Sinergitas dan kolaborasi dalam berbagai peran sesuai dengan keunggulan dan potensi yang dimiliki masing-masing diharapkan dapat mempercepat program Three Ends yang diusung KPPPA RI.

Menurut data Komnas Perempuan tahun 2017, dengan banyaknya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2018 terjadi peningkatan kasus kekerasan pada anak perempuan sebesar 2.227 kasus. Angka kekerasaan terhadap istri sebanyak 5.167 kasus, kekerasaan dalam pacaran yang dialami perempuan sebanyak 1.873. Diranah privat/personal, presentase tertinggi adalah fisik 41% (3.982 kasus), kekerasaan seksual 31 % (2,979 kasus), kekerasaan psikis 15 % (1.404) kaus) dan kekerasaan ekonomi 13 % (1.244 kasus).

Kekerasaan seksual diranah privat/personal tahun ini, incest (pelaku orang terdekat yang masih memilki hubungan keluarga) merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan sebanyak 1.210 kasus, kedua adalah kasus perkosaan sebanyak 619 kasus, kemudian persetubuhan/eksploitasi seksual sebanyak 555 kasus. Dari total 1.210 kasus, sejumlah 266 kasus (22 %) dilaporkan ke polisi, dan masuk dalam proses penyidikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim Halda Arsyad melalui Sekretaris DKP3A Kaltim Zaina Yurda, dalam sambutannya pada kegiatan Pelatihan Bagi Anggota Forum Puspa Se-Kaltim, berlangsung di Hotel Selyca Mulia Samarinda, Senin (1/10).

“Dalam konteks daerah, Provinsi Kaltim dalam kurun waktu 2 tahun terakhir (2015-2017), berdasarkan data dari aplikasi pencatatan kekerasaan (Simfoni) DKP3A Kaltim, terjadi peningkatan kasus kekerasaan terhadap perempuan dan anak sebesar 50,73 % dengan perincian pada tahun 2016 sebanyak 388 kasus sedangkan pada tahun 2017 sebanyak 761 kasus. Kekerasaan fisik, psikis dan seksual masih sering dialami oleh perempuan dan anak di provinsi ini,” ujarnya.

Wilayah Kota Samarinda paling banyak terjadi kasus kekerasaan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2015 sebanyak 139 kasus, sedangkan pada tahun 2017 terjadi peningkatan yaitu sebanyak 415 kasus.

“Kasus kekerasaan yang paling menonjol di wilayah Samarinda terjadi di Kecamatan Samarinda Seberang, kondisi di Samarinda Seberang terdapat kasus lain seperti : kasus pernikahan usia dini, perkelahian, anak punk, kemiskinan, narkoba, ngelem bahkan wilayah tersebut pernah mendapat predikat sebagai Kampung Zombi, berbagai kasus tersebut terungkap dari berbagai media dan laporan kasus yang terinventarisir di Forum Puspa Provinsi Kalimantan Timur,” imbuh Yurda.

Maka dengan pelatihan ini, Yurda berharap dapat memperkuat jejaring dan informasi data serta mengupayakan penyelesaian masalah-masalah kekerasaan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia dan kesenjangan akses ekonomi bagi perempuan.

Selain itu, memperkuat peran dan sinergi Forum PUSPA di Kabupaten/Kota yang telah terbentuk yaitu Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, PPU dan Kutai Timur. Mendorong pembentukan Forum PUSPA di Enam Kabupaten/kota lain yaitu Kabupaten Paser, Kota Bontang, Kabupaten Kutai Barat, Kota Balikpapan, Kota Samarinda dan Kabupaten Mahakam Ulu.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 50 peserta dari unit kerja PPPA kabupaten/kota, Forum Puspa provinsi dan kabupaten/kota. Bertindak sebagai narasumber Asdep Bidang Partisipasi Masyarakat Sri Prihartini Wijayanti dan Ketua Yayaysan Terang Anak Indonesia (Yateri) Sondang K Susanne Siregar. (DKP3AKaltim/rdg)