Keluarga Wahana Penting Bagi Penanaman Nilai Luhur Pada Anak

By: dela dkp3a
Selasa, 03 Jul 2018
27 pembaca
Samarinda – Pembentukan karakter bangsa harus dimulai sedini mungkin melalui proses dalam kehidupan keluarga, di sekolah, di lingungan masyarakat dan bernegara. Anak-anak adalah bagian dari karakter dan jati diri bangsa yang harus dipersiapkan menjadi individu yang berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Sehingga, penanaman nilai-nilai luhur pada anak dalam keluarga menjadi aspek yang sangat penting dalam proses pembangunan karakter, selain melalui proses pendidikan formal dan non formal yang diperoleh anak di sekolah dan lembaga pendidikan non formal lainnya.

Kajian Awal dan Workshop Penanaman Nilai-Nilai Luhur Pada Anak dalam Kelurga di Provinsi Kaltim (Lokus Kota Samarinda) yang dilakukan oleh Sahabat Misyskat Indonesia bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Kaltim (UMKT) Prodi Kesmas, ditujukan bagi penanggung jawab isu tumbuh kembang anak di daerah, Jumat (29/6).

Kepala Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim Halda Arsyad dalam sambutannya melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Noer Adenany, mengatakan belum hilang dari ingatan bagaimana energi kita terkuras pada kasus kekerasan perempuan dan anak di Kaltim khususnya Kota Samarinda. Hal ini mengindikasikan semakin jauhnya bangsa ini dari nilai-nilai luhur Pancasila.

“Sehingga harus menjadi perhatian khusus semua pihak agar nilai-nilai luhur ini tetap tertanam dalam diri bangsa Indonesia. Tiga unsur elemen yakni keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat memainkan peran sentralnya sebagai agen perubahan dari laboratorium mini kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Selain itu, katahanan nasional adalah kekuatan sebuah bangsa karena memilki SDM yang beridentitas atau berkarakter tertentu. Namun, di era globalisasi, ketahanan nasional terancam karena tergerus nilai-nilai liberalisme.

“Dari data Sistem Informasi Online (Simfoni) yang dihimpun DKP3A Kaltim, dalam dua tahun terakhir data kekerasan terhadap perempuan (KTP) dan kekerasan terhadap anak (KTA) Kota Samarinda menduduki peringkat pertama,” tutur Dany.

Maka diharapkan, kajian ini menjadi semangat baru semua pihak untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan terhadap anak dan upaya perlindungan serta pemenuhan hak anak. Bahwa pembentukan kepribadian anak yang fundamental seperti etika, jujur, toleransi, percaya diri, empati, disiplin dan tanggung jawab sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan pola didik orang tua. Keluarga menjadi wahana penting tumbuh kembang anak dalam hal pertumbuhan dan perkembangan fisik, intektual, emosional spiritual dan sosial.

Kajian dilaksanakan pada April-Mei dan workshop diikuti sedikitnya 50 peserta terdiri organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, lembaga masyarakat, BKOW, PKK, HWK, LM pemerhati anak, akademisi, praktisi, lembaga profesi, forum anak, forum osis serta perwakilan orang tua dan anak. (dkp3a/rdg)