Kartini Masa Kini Masih Dibayangi Perkawinan Dini

By: dela dkp3a
Senin, 23 Apr 2018
35 pembaca
Samarinda – Sebagai bentuk apresiasi memperingati Hari Kartini, Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim menggelar Sosialisasi Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak di Desa Loa Kumbar, Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, sekaligus memberikan plakat cinderamata kepada Lurah Loa Buah serta penyerahan secara simbolis Akta Kelahiran kepada sebagian anak warga kelurahan Loa Buah. Sabtu (21/4).

Kepala Dinas KP3A Kaltim Halda Arsyad, melalui Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Hardiana Muriyani, dalam sambutannya yang dibacakan Kasubbid Pemberdayaan Perempuan Fachmi Rozano, mengatakan Hari Kartini selalu diperingati setiap tahun, namun hendaknya janganlah pada moment ini saja kita menampilkan hasil karya dan cipta kaum perempuan. Lebih daripada itu mudah-mudahan setiap hari, setiap masa perempuan Indonesia tetap berjuang dan bercitra sebagai bangsa yang harum namanya.

“Tidaklah berlebihan kiranya jika perempuan sekarang telah mampu berbicara sejajar dengan laki-laki. Ini menunjukkan bahwa bangsa kita khususnya perempuan benar-benar telah menyadari betapa pentingnya peranan dan kemampuan perempuan dalam menegakkan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat,” ujarnya.

Menteri PPPA Yohana Yembise mengatakan saat ini perempuan masih dibayangi dengan perkawinan di usia yang sangat muda. Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini ia berharap agar tidak ada lagi perkawinan yang terjadi pada anak perempuan yang belum siap menjalani kehidupan berumah tangga.

Perkawinan bukanah hal yang buruk jika dilakukan pada usia yang tepat dengan persiapan yang matang. Perkawinan anak justru akan membawa permasalahan baru bagi perempuan dimulai dari hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, resiko ancaman dari penyakit reproduksi dan keretakan keluarga rumah tangga karena ketidaksiapan mental mereka dalam membangun keluarga.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 tentang jenjang pendidikan yang ditempuh oleh perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah atau di atas 16 tahun. Hasilnya, 94,72 persen perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah 18 tahun putus sekolah, sementara yang masih bersekolah hanya 4,38 persen.

Hal inilah yang juga terjadi di Desa Loa Kumbar, letaknya yang jauh dari keramaian meski berada di ibu kota tak membuatnya ditunjang fasilitas umum. Desa ini hanya memiliki satu sekolah dasar yaitu SDN 005 Filial. Sementara untuk SMP dan SMA berada di Loa Buah dan siswa harus menyebrang mengunakan kapal sekitar 20 menit atau perahu ces sekitar 10 menit.

“Selain itu, terdapat indikasi banyaknya perempuan yang melakukan pernikahan dini. Ini terpantau saat DKP3A Kaltim melakukan kunjungan pertama Desember 2017 silam. Maka, kami berupaya memberi pemahaman tentang perlindungan perempuan dan anak serta berinisiatif membantu masyarakat melakukan percepatan Gerakan Indonesia Sadar Administrasi (GISA) yaitu pembuatan akta dan KTP elektronik dalam upaya tertib data kependudukan,” ujar Kasubbid Perlindungan Anak Siti Khotijah.

Materi yang diberikan pada sosialisasi ini yaitu Perlindungan Perempuan dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh Kasubbid Perlindungan Anak Fachmi Rozano, SE, Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) oleh Kasuubid Perlindungan Anak Siti Khotijah, dan Pengasuhan Anak dan Bahaya Pernikahan Usia Dini oleh Kasubbid Tumbuh Kembang Anak Siti Mahmudah I K.

Kegiatan ini diikuti perwakilan dari Dinas PP dan PA Kota Samarinda, Polsekta Sungai Kunjang, Lurah Loa Buah, tokoh agama, tokoh Masyarakat, siswa- siswi SDN 005 Fillial beserta guru dan kepala sekolah, dan seluruh warga masyarakat Loa Kumbar RT 29. (dkp3a/rdg)