Hindari KDRT Dengan Keterbukaan Terhadap Pasangan

By: dela dkp3a
Rabu, 31 Okt 2018
43 pembaca
Samarinda --- Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan tindakan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan hubungan.

Hal ini disampaikan oleh Kasi Tumbuh Kembang Anak sekligus psikolog Siti Mahmudah Indah Kurniawati, dalam dialog interaktif bersama RRI Pro I Samarinda, Selasa (30/10).

Ruang lingkup tindakan KDRT adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan dengan melawan hukum.

“Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu,” ujar perempuan yang akrab di sapa Nia.

Tidak semua tindakan KDRT dapat ditangani secara tuntas karena korban sering menutup-nutupi dengan alasan ikatan struktur budaya, agama, dan belum dipahaminya sistem hukum yang berlaku. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.

Nia yang berkantor di Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim, melanjutkan urutan dampak terburuk yang dialami korban yaitu kekerasan psikis, fisik, kekerasan seksual, dan penelantaran.

“Sementara banyak hal yang menjadi pemicu terjadinya KDRT yaitu pertama persepsi atau cara pandang, komunikasi, pembangian tugas yang tidak seimbang dan masalah ekonomi keluarga serta lainnya,” imbuh Nia.

Ia menyebutkan, Gawai juga menjadi penyumbang 60 % kasus KDRT sejak tahun 2016.

Maka dari itu, di dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar tidak terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan dan tentunya diperlukan keterbukaan antar pasangan. “Sampaikan meskipun seburuk apapun tetapi dengan keadaan tenang dan santai,” tuturnya.

Namun, jika telah terjadi kekerasan dalam rumah tangga sebaiknya melakukan konseling kepada Psikolog atau tokoh agama, dan bisa langsung melakukan pelaporan agar dapat tertangani juga memperoleh solusinya. (DKP3AKaltim/rdg)